PENDIDIKAN: KUNCI MENGUBAH STATUS SOSIAL


BAB I

PENDAHULUAN

A.    LATAR BELAKANG

 Pendidikan merupakan salah satu upaya suatu bangsa dalam meningkatkan derajat dan kualitas sumber daya manusia untuk sejajar dengan bangsa maju lainnya di dunia. Suatu bangsa dikategorikan maju jika 3 komponen terpenuhi yaitu, pendidikan, kesehatan, dan ekonomi yang mapan. Salah satu yang terpenting dari ketiga hal tersebut dan sebagai kunci dalam kemajuan bangsa adalah pendidikan. Pendidikan merupakan jalan awal dalam menuju kemajuan dan pencapaian kesejahteraan sosial dan ekonomi. Dengan pendidikan akan melahirkan manusia yang berkualitas. Dan melalui pendidikan manusia akan memperoleh pengetahuan dan dengan pengetahuannya itulah manusia dapat membangun hidupnya dengan lebih baik.  Karena pendidikan sebagai dasar proses memajukan pola pikiran manusia untuk mengoptimalkan kecerdasannya untuk memberdayakan sumber daya alam demi kesejahteraan manusia. Pada kenyataannya anggapan masyarakat menyatakan bahwa pendidikan dengan cara sekolah merupakan cara yang sia-sia yang membuang banyak waktu dan tenaga dengan percuma, sekolah hanya dijadikan tempat untuk mencari pandangan di mata masyarakat sebagai kaum yang memiliki status yang perlu diperhitungkan.

Orang pintar, apalagi dengan tingkat pendidikan hingga S-3 atau bahkan bergelar profesor, selalu diyakini sebagai orang-orang hebat dan jaminan mutu untuk menyelesaikan semua hal. Kalau ada suatu kepanitiaan atau lembaga yang butuh ketua, biasanya orang-orang ini mendapat prioritas memimpin. Kalau ada pertemuan, mereka mendapat tempat terhormat dan duduk di bangku terdepan. Gelar mereka diyakini menjadi garansi keberhasilan. Apalagi kalau orang pintar itu lulusan perguruan tinggi terkenal di dalam atau (apalagi) luar negeri. Gelar mereka sangat diyakini merupakan obat cespleng untuk berbagai problem. Orang yang memiliki gelar akademik baik langsung maupun tidak langsung dipercayainya akan dapat menduduki status sosial tertentu di lingkungan masyarakatnya. Ia akan mendapatkan hak-hak istimewa karena gelarnya, baik secara ekonomis, sosial, budaya, dan hak-hak ikutan lainnya. Ijazah dan gelar dianggap akan merupakan “tiket” untuk meningkatkan status sosial,  jabatan dan lain-lain di tempat ia berada.

Melalui pendidikan seseorang dapat meningkatkan dan mengembangkan dirinya sehingga status sosialnya berubah. Pada masyarakat Indonesia umumnya beranggapan bahwa dengan menempuh pendidikan merupakan salah satu cara dalam meningkatkan derajat statusnya di dalam masyarakat. Tidak dapat dipungkiri bahwa menempuh pendidikan salah satu cara meningkatkan status sosial dalam masyarakat saat ini. Oleh karena itu tidak heran dengan banyaknya orang bersekolah demi untuk meningkatkan statusnya untuk lebih tinggi. Maka hal ini wajar jika adanya anggapan dari masyarakat mengenai hal tersebut. Oleh karena itu,  dalam makalah ini akan dibahas mengenai peran pendidikan  sebagai kunci meningkatkan status sosial seseorang dalam masyarakat.

 B.     RUMUSAN MASALAH

  1. Apa itu Pendidikan dan status sosial?
  2. Adakah hubungan antara pendidikan dengan peningkatan status sosial?
  3. Bagaimana peran pendidikan dalam meningkatkan status sosial?

 C.    TUJUAN

  1. Mendeskripsikan tentang pendidikan dan status sosial.
  2. Menjelaskan hubungan antara pendidikan dengan peningkatan status sosial.
  3. Menjelaskan peran pendidikan dalam meningkatkan status sosial.

BAB II

PEMBAHASAN

A.      Pendidikan Dan Status Sosial

a)      Pendidikan

Pendidikan mempunyai posisi sentral dalam kehidupan manusia. Melalui pendidikan  potensi anak didik dikembangkan dalam tiga ranah, yaitu ranah kognitif yang berkaitan dengan olah otak, ranah afektif yang berkaitan dengan olah hati atau perasaan dan ranah psikomotorik yang berkaitan dengan olah otot. Selama masa pendidikan, anak didik akan mendapatkan bekal knowledge (pengetahuan), attitude (sikap) dan practice (ketrampilan).

Hasbullah menyebutkan beberapa pengertian pendidikan yang diberikan oleh para ahli sebagai berikut:[1]

  1. Langeveld

Pendidikan adalah setiap usaha, pengaruh, perlindungan, dan bantuan yang diberikan kepada anak tertuju kepada pendewasaan anak itu, atau lebih tepatnya membantu anak agar cukup cakap melaksanakan tugas hidupnya sendiri.

  1. John Dewey

Pendidikan adalah proses pembentukan kecakapan-kecakapan fundamental secara intelektual dan emosional ke arah alam dan sesama manusia.

  1. J.J. Rousseau

Pendidikan adalah memberikan perbekalan yang tidak ada pada masa anak-anak, akan tetapi kita membutuhkannya pada waktu dewasa.

  1. Driyakara

Pendidikan adalah pemanusiaan manusia muda atau pengangkatan manusia muda ke taraf insani.

  1. Carter V. Good

Pendidikan ialah :

  1. Seni, praktek atau profesi sebagai pengajar.
  2. Ilmu yang sistematis atau pengajaran yang berhubungan dengan prinsip dan metode – metode mengajar, pengawasan dan bimbingan murid, dalam arti luas digantikan dengan istilah pendidikan.
  3. Ahmad D. Marimba

Pendidikan adalah bimbingan atau pimpinan secara sadar oleh si pendidik terhadap perkembangan jasmani dan rohani si terdidik menuju terbentuknya kepribadian utama.

  1. Ki Hajar Dewantara

Pendidikan yaitu tuntutan di dalam hidup tumbuhnya anak-anak, adapun masksudnya, pendidikan yaitu menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak itu, agar mereka sebagai manusia dan anggota masyarakat dapatlah mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya.

  1. Menurut UU Nomor 2 Tahun 1989

Pendidikan adalah usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, dan latihan bagi peranannya di masa yang akan datang.

  1. Menurut UU Nomor 20 Tahun 2003[2]

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri,keterampilan,kecerdasan, akhlak mulia,serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara.

Dari beberapa defenisi pendidikan di atas, dapat disimpulkan bahwa pendidikan adalah usaha sadar yang terencana dan tersistematis dalam memanusiakan manusia.

Secara singkat bahwa tujuan pendidikan nasional ialah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya.  Menurut pasal 3 UU No. 20 Tahun 2003 tujuan pendidikan nasional yaitu “untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlalk mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bartanggung jawab”.[3]

Penyelenggaraan pendidikan di Indonesia dapat dilaksanakan melalui tiga jalur yaitu pendidikan informal, pendidikan formal dan pendidikan non formal. Pendidikan informal yaitu jenis pendidikan yang tidak terencana secara jelas dan tidak sistematis, dilaksanakan di luar sekolah terutama di dalam lingkungan keluarga, pendidikan formal yaitu pendidikan yang diselenggarakan di sekolah melalui kegiatan belajar mengajar secara berjenjang dan berkesinambungan, sedangkan pendidikan non formal yaitu pendidikan yang diselenggarakan dan dilaksanakan di luar sekolah melalui kegiatan belajar mengajar yang tidak harus berjenjang dan berkesinambungan.

Sekolah sebagai lembaga yang menyelenggarakan pendidikan formal mempunyai peranan yang sangat besar dalam usaha mendewasakan anak dan menjadikan anak sebagai anggota masyarakat yang cerdas. Berkenaan dengan sumbangan sekolah terhadap pendidikan itulah, maka sekolah sebagai lembaga pendidikan mempunyai sifat – sifat sebagai berikut :[4]

  1. Tumbuh sesudah keluarga.
  2. Lembaga pendidikan formal.
  3. Lembaga pendidikan yang tidak bersifat kodrati.

Disamping itu, pendidikan formal/ sekolah juga mempunyai ciri – cirri khusus, yaitu :[5]

  1. Diselenggarakan secara khusus dan dibagi atas jenjang yang memiliki hubungan hierarkis.
  2. Usia siswa (anak didik) disuatu jenjang relative homogen.
  3. Waktu pendidikan relative lama sesuai dengan program pendidikan yang harus diselesaikan.
  4. Isi pendidikan lebih banyak yang bersifat akademis dan umum.
  5. Mutu pendidikan sangat ditekankan sebagai jawaban terhadap kebutuhan dimasa yang akan datang.

Pendidikan formal diharapkan mendorong kemajuan pada umumnya. Sekolah diharapkan merupakan wahana kemajuan sosial, pertumbuhan ekonomi, dan aspek kehidupan lain, seperti politik.[6]

b)      Status Sosial

Status sosial ialah kedudukan sosial seseorang dalam kelompok serta dalam masyarakat. Pendidikan dapat menentukan status seorang individu dalam suatu kelompok. Dimana status individu dalam suatu kelompok tergantung dari sejauh mana kearifan dan kedalaman individu tersebut memaknai keilmuannya.

Menurut Raphh Linton  kemungkinan seseorang dalam memperoleh status ada dua macam:[7]

  1. Ascribed status, ialah status yang diperoleh dengan sendirinya oleh seorang anggota masyarakat. Misanya dalam sistem kasta, seorang anak sudra, langsung saja sejak lahir ia berstatus sudra. Seorang anak raja langsung menjadi bangsawan.
  2. Achieved status, ialah kedudukan yang dicapai seseorang dengan usaha yang disengaja, seperti sarjana untuk kelulusan S1, magister untuk lulusan S2, dan doktor untuk lulusan S3, dan seterusnya.

Menurut pendapat Ralph Linton untuk butir kesatu yaitu ascribed status,bahwa status dapat diperoleh dengan adanya kelahiran seseorang atau dengan sendirinya tergantung dari status orang tua. Sedangkan achieved status dapat diperoleh melalui usaha yaitu dengan menempuh pendidikan tertentu. Lebih lanjut mengenai cara memperoleh status, menurut Mayor Polak dalam Gunawan, (2000:42) selain status yang diutarakan Ralph Linton masih ditambah dengan Assigned status yaitu status diberikan kepada seseorang karena jasanya. Misalnya dapat status “putra mahkota” karena berjasa menyembuhkan penyakit sang raja atau seorang yang berjasa karena dapat menghalau dan mengamankan negeri dari kejahatan yang mengancam kesejahteraan negara.

Selanjutnya Mayor Polak menyataan bahwa status ialah kedudukan social seseorang dalam kelompok serta dalam masyarakat. Status mempunyai dua aspek:

  1. Aspek stabil (structural), yakni yang bersifat hirarki (berjenjang) yang mengandung perbandingan tinggi/rendah secara relatif terhadap status – status lain.
  2. Aspek dinamis (fungsional), yakni peranan sosial yang berkaitan dengan sosial yang berkaitan dengan suatu status tertentu, yang diharapkan dari seseorang yang menduduki suatu status tertentu.

c)      Pendidikan sebagai variabel atau status[8]

Menurut Weber, pendidikan dianggap sebagai suatu variabel kelas atau status. Pengetahuan dan ketrampilan yang didapat seseorang melalui pendidikan di sekolah dapat mempertinggi kemampuan (kesanggupan) pemasaran di dunia ekonomi, yang akan mengantarkannya pada posisi kelas tinggi. Sebagai suatu variabel status, pendidikan mengarah ke suatu gaya hidup dan pola konsumtif yang berbeda dengan golongan lain (kelas buruh). Hal ini akan membuat golongan pendidikan menjadi eksklusif dan monopoli suatu gaya hidup tertentu dan membuat batas – batas dari golongan lain tetap berada di luar golongan ini. Salah satu cara yang mudah dilihat yaitu dengan membrikan gelar – gelar dari fakultas. Jadi, pada variabel status tekanannya bukan pada pengetahuan dan ketrampilan yang diperlukan di pasaran kerja, tetapi pada unsure kehidupan yang memisahkan golongan ini dengan golongan lain dengan sesuatu yang unik seperti gelar – gelar tersebut.

Paham Weberian beranggapan bahwa ketrampilan – ketrampilan yang dituntut pada pelaksanaan pekerjaan (pasar kerja) dapat diajarkan secara efisien di tempat kerja dan belum tentu mereka yang berpendidikan tinggi lebih terampil dari mereka yang diberi latihan – latihan. Namun, kenyataannya mereka yang berpendidikan tinggilah yang yang menduduki posisi (kelas) yang penting. Ini berarti peran sekolah adalah meneruskan perbedaan – perbedaan status dan gaya hidup dari golongan berpendidikan. Dengan demikian peran sekolah adalah untuk melanggengkan posisi kaum elit, kelas atas agar tetap berada pada kelasnya dan mempunyai status yang tinggi sekaligus pula pada kekuasaannya.

B.       Hubungan Pendidikan dengan Peningkatan Status Sosial Seseorang

Pendidikan yang baik dipercaya dapat mencerdaskan kehidupan bangsa. Bagi individu atau keluarga, pendidikan dipercaya sebagai jalan yang paling relevan untuk meningkatkan derajat kehidupan keluarga sehingga berlaku common sense  bahwa pendidikan dapat mempercepat terjadinya vertical social movement, yaitu perpindahan seseorang dari strata sosial yang lebih rendah ke strata yang lebih tinggi.

Status sosial memang sesuatu yang sangat penting. Berbagai cara dilakukan manusia untuk meningkatkan status sosial mereka. Melalui pendidikan seseorang dapat meningkatkan dan mengembangkan dirinya sehingga status sosialnya berubah. Dari tiga jalur pendidikan yaitu mulai dari pendidikan informal, pendidikan formal dan pendidikan nonformal,yang lebih menjanjikan dalam meningkatkan status sosial adalah jalur pendidikan formal dan nonformal. Hal ini ditandai dengan adanya orang mendapatkan pekerjaan selain keahlian juga secara formal memiliki ijasah/sertifikat tertentu.

Pengetahuan dan ketrampilan yang didapat seseorang melalui pendidikan di sekolah dapat mempertinggi kemampuan (kesanggupan) pemasaran di dunia ekonomi, yang akan mengantarkannya pada posisi kelas tinggi. Sehingga, untuk mencapai posisi – posisi tertentu, diperlukan pendidikan tertentu. Oleh karena itu, maka dasar dari kelompok status tersebut adalah faktor ekonomi dan pendidikan (Margaret Hewitt & G. Duncan Mitchell 1979 : 197)[9].

Kriteria utama dari status pribadi seseorang adalah pekerjaan atau mata pencaharian yang bersangkutan.  Stratifikasi yang didasarkan pada pekerjaan atau mata pencaharian, terutama berasal dari kemajuan yang dicapai secara pribadi. Tetapi Parsons mengakui, bahwa status yang tinggi itu juga bisa didasarkan pada warisan atau kelahiran.[10]

Bagaimanapun anak yang di didik di lembaga persekolahan, pada akhirnya akan kembali dan menjadi warga masyarakat. Berkenaan dengan ini mereka memerlukan pekerjaan untuk menopang kehidupannya. Untuk terjun kedunia kerja, seseorang dituntut memerlukan kesiapan tertentu yang diperlukan oleh lapangan kerja bersangkutan. Kesiapan tersebut meliputi pengetahuan, skill dan sikap. Fungsi penyiapan bagi kepentingan dunia kerja, dalam kenyataannya tidak terlepas dari perhatian lembaga pendidikan persekolahan.

Dalam kenyataannya di masyarakat, orang yang memiliki pendidikan tinggi kedudukannya dalam masyarakat selalu diperhitungkan. Orang yang memiliki gelar akademik baik langsung maupun tidak langsung dipercayainya akan dapat menduduki status sosial tertentu di lingkungan masyarakatnya. Ia akan mendapatkan hak-hak istimewa karena gelarnya, baik secara ekonomis, sosial, budaya, dan hak-hak ikutan lainnya. Ijazah dan gelar dianggap akan merupakan “tiket” untuk meningkatkan status sosial,  jabatan dan lain-lain di tempat ia berada. Akibatnya banyak orang melanjutkan pendidikan hingga ke jenjang S3 hanya untuk menggapai jabatan, golongan, dan status sosial yang lebih tinggi. Bukan karena mencintai pengetahuan.

Orang pintar, apalagi dengan tingkat pendidikan hingga S-3 atau bahkan bergelar profesor, selalu diyakini sebagai orang-orang hebat dan jaminan mutu untuk menyelesaikan semua hal. Kalau ada suatu kepanitiaan atau lembaga yang butuh ketua, biasanya orang-orang ini mendapat prioritas memimpin. Kalau ada pertemuan, mereka mendapat tempat terhormat dan duduk di bangku terdepan. Gelar mereka diyakini menjadi garansi keberhasilan. Apalagi kalau orang pintar itu lulusan perguruan tinggi terkenal di dalam atau (apalagi) luar negeri. Gelar mereka sangat diyakini merupakan obat cespleng untuk berbagai problem.

Dampak pendidikan memang besar dalam kehidupan manusia. Berkaitan dengan masalah pendidikan yang mengakibatkan perubahan status, maka melalui pendidikan seseorang akan mengakibatkan perbedaan status. Apabila pendidikannya tinggi maka statusnya akan tinggi sebaliknya apabila pendidikannya rendah maka statusnya juga akan rendah. Lebih lanjut menurut Karsidi (2007:185) bahwa: “makin tinggi sekolahnya makin tinggi tingkat penguasaan ilmunya sehingga dipandang memiliki status yang tinggi di masyarakat”.[11] Memperjelas pendapat tersebut juga disebutkan bahwa pendidikan merupakan anak tangga mobilitas yang penting.

C.      Peran Pendidikan dalam Meningkatkan Status Sosial seseorang

Pendidikan sebagai sarana penanaman nilai dan karakter masih dipercaya masyarakat sebagai media untuk mencapai kehidupan yang lebih baik, sebagai jaminan masa depan untuk mencapai kesejahteraan dan masa depan yang gemilang. Dengan harapan yang besar terhadap pendidikan, masyarakat rela berkorban apapun untuk mendapatkan pendidikan bagi anak-anaknya. Sebuah impian masyarakat dengan sebuah cita-cita meningkatkan status sosial dan kehidupan yang layak dimasa depan.

Pendidikan yang lebih tinggi adalah suatu syarat mutlak bagi mereka yang mencari kesempatan menjadi lapisan atas yang muncul dalam masyarakat ini. Pendidikan bagi sebagian besar orang tua, pendidikan dianggap sebagai alat untuk meraih masa depan yang lebih baik bagi anak – anak mereka. Pendidikan dianggap sebagai sarana paling tepat untuk status sosial ekonomi yang lebih baik bagi anak – anak mereka. Dengan pendidikan yang diperoleh seseorang, orang dapat mempertahankan sekaligus meningkatkan status sosial.  Inilah salah satu fungsi laten dari pendidikan. Fungsi laten ialah fungsi dari konsekuensi yang tidak dikehendaki dan tidak diramalkan. Adapun fungsi manifest dari pendidikan yaitu mulai dari membekali anak didik dengan pengetahuan, sikap dan keterampilan, mencerdaskan bangsa sampai meningkatkan derajat sebuah generasi. Fungsi manifest ialah fungsi yang dinyatakan, dikumandangkan, dan diakui oleh banyak orang.

Pendidikan, secara sosiologis, akan melahirkan suatu lapisan masyarakat terpelajar, yang menjadi fundamen bagi pembentukan formasi sosial baru, yaitu kelas menengah. Dengan pendidikan yang baik, kelas menengah terpelajar ini akan lebih mudah menyuarakan aspirasi publik, bersikap kritis, dan artikulatif. Dimensi sosial pendidikan menegaskan bahwa pendidikan akan meningkatkan mutu kehidupan masyarakat, dengan indikator-indikator sebagai berikut:[12]

a)    Pendidikan akan meningkatkan status sosial individu atau kelompok masyarakat, yang kemudian menjadi instrumen dan kekuatan pendorong proses mobilitas vertikal.

b)   Tingkat pendidikan yang lebih tinggi akan memudahkan individu atau kelompok masyarakat untuk mendapatkan atau memilih jenis-jenis pekerjaan yang lebih baik. Yang akan berimplikasi pada perbaikan dan peningkatan penghasilan sehingga berpengaruh secara langsung terhadap peningkatan derajat kesejahteraan dan kesehatan.

c)    Pendidikan akan membawa dampak langsung terhadap pengurangan kemiskinan apabila derajat kesejahteraan masyarakat kian membaik dan populasi penduduk miskin semakin berkurang.

d)   Pendidikan akan membekali individu dengan sejumlah keterampilan sosial seperti kemampuan berkomunikasi, menjalin interaksi sosial, dan membangun relasi harmonis di dalam kehidupan bermasyarakat. Bekal keterampilan sosial akan membuka akses ke dalam pergaulan hidup di masyarakat sehingga memungkinkan bagi individu untuk mengembangkan segenap potensi diri.

e)    Pendidikan akan membuka berbagai peluang untuk melakukan inovasi dan menyediakan sejumlah pilihan alternatif untuk mengembangkan kreativitas sosial di berbagai bidang kehidupan.

Pada pendidikan formal dunia pekerjaan dan dunia status lebih mempercayai kepemilikan ijasah tanda lulus seseorang untuk naik jabatan dan naik status. Dalam dunia pekerjaan dengan persaingan yang semakin tinggi mendesak permintaan akan spesialis – spesialis berpendidikan tinggi. Disinilah muncul masalah baru sebagai fungsi laten pendidikan. Fungsi laten (negative) pendidikan dalam meningkakan status yaitu adanya praktik ijazah dan gelar akademik aspal.  Terdapat beberapa konsekuensi tertentu dari suatu gelar akademik bagi pemakainya.[13]

a)   Pertama,  gelar akademik seharusnya terkait dengan berbagai persyaratan, proses dan prosedur belajar-mengajar yang sudah dijalaninya selama yang bersangkutan mengikuti pendidikannya.

b)   Kedua, penyandang gelar akademik dipandang telah memiliki kompetensi dan wawasan  sesuai bidang ilmunya.

c)   Ketiga,  penyandang gelar akademik  mempunyai hak dan kewajiban yang melekat  untuk peningkatan kualitas hidupnya maupun untuk pengembangan ilmu pengetahuan dan pengabdiannya yang terkait dengan kompetensinya.

d)  Keempat, penyandang gelar akademik ( untuk sarjana, misalnya) akan mengandung nilai-nilai moral dan komitmen yang berhubungan langsung dengan Tuhan, terutama saat yang bersangkutan mengucapkan janji atau ikrar prasetya sarjana.

e)   Kelima, gelar akademik seharusnya terkait dengan komitmen pengabdian dan sekaligus menjunjung tinggi dan kehormatan almamater pemberi gelar. Dengan demikian akan terbentuk komunitas almamater yang saling menjaga dan mengusahakan kebanggaan  sesama anggota komunitas tersebut.

Pendidikan rupa – rupanya tidak saja membuat seseorang menjadi atau memperoleh kedudukan dalam lapisan yang lebih tinggi, akan tetapi juga akan memberikan kemungkinan untuk memperoleh pendapatan yang tinggi pula.[14] Kesejahteraan, dalam hal ini dapat memberikan paling sedikit kemungkinan memperoleh kedudukan yang lebih baik, juga mungkin akan memperoleh fasilitas berkawan atau bergaul dengan mereka yang tergolong anggota lapisan yang tinggi.

Clark (1944) dalam bukunya yang berjudul, An Investment in People, menyatakan bahwa, “experiments in law-income communities show cleary that education can be used to help people obtain a higher standard of living through their own efforts”. Hal ini menunjukkanbahwa pendidikan dapat dipergunakan untuk membantu penduduk dalam meningkatkan taraf hidupnya ke tingkat yang lebih tinggi melalui usaha mereka sendiri.  Signifikansi antara tingkat pendidikan dengan tingkat keadaan ekonomi atau hubungan antara tingkat pendidikan dan tingkat sosial ekonomi seseorang oleh Clark (1944) tersebut bisa diutarakan sebagai berikut.[15]

a)    Makin tinggi tingkat pendidikan seseorang, makin tinggi pula tingkat penghasilannya (tamatan sekolah dasar maksimal antara empat dan lima ribu dolar setahun; tingkat sekolah menengah atas maksimal antara lima dan enam ribu dolar setahun dan tingkat perguruan tinggi maksimal antara delapan dan sembilan ribu dolar setahun).

b)   Tamatan sekolah dasar (atau sekolah menengah pertama) akan mendapat penghasilan maksimal pada usia sekitar 35-34 tahun; tamatan sekolah menengah atas akan mendapatkan penghasilan maksimal pada usia sekitar 35-44 tahun dan tamatan perguruan tinggi akan mendapat hasil maksimal pada usia sekitar 45-54 tahun.

c)    Tamatan sekolah dasar dan sekolah menengah pertama pada usia tua mendapat hasil yang lebih rendah dari hasil ketika mereka mulai bekerja. Tamatan sekolah menengah atas pada usia tua mendapat hasil yang seimbang dengan hasil ketika mereka mulai bekerja. Tamatan perguruan tinggi pada usia tua mendapat hasil yang lebih besar ketika mereka mulai bekerja. Walau demikian tentulah dimaklumi bahwa tidak semua orang mengalami atau memiliki korelasi antara tingkat pendidikan dan penghasilan seperti diatas, penyimpangan tentu ada sebagaimana dalam masalah sosial lainnya.


[1] Hasbullah, 1999, “Dasar – Dasar Ilmu Pendidikan”, Jakarta: Raja Grafindo Persada,hal. 2-4.

[2] Dwi Siswoyo,dkk, 2007, “Ilmu Pendidikan”, Yogyakarta : UNY Press, hal. 19.

[3] Dwi Siswoyo,dkk, 2007, opcit, hal. 82.

[4] Hasbullah, 1999, op cit, hal.34.

[5] Hasbullah. 1999. ibid, hal.5.

[6] Imam Barnadib, 1986, “Pendidikan Perbandingan : Buku Dua (Persekolahan dan Perkembangan Masyarakat)”, Yogyakarta : Andi Offset, hal.37-38.

[7]  Ary H. Gunawan, 2000, Sosiologi Pendidikan : Suatu Analisis tentang Berbagai Problem Pendidikan, Jakarta : Rineka Cipta, hal. 42.

[8] Farida Hanum, 2011, “Sosiologi Pendidikan”, Yogyakarta : Kanwa Publisher, hal. 29-31.

[9] Soerdjono Soekanto, 1983, “Teori Sosiologi tentang Struktur Masyarakat”, Jakarta : Rajawali, hal. 252.

[10] op cit, hal.257.

[11] Ravik, 2009, “Gelar Akademik dan Konsekuensinya”, diakses dari http://uns.ac.id/2009/11/05/gelar-akademik-dan-konsekuensinya/+upaya+meningkatkan+status+sosial/ pada tanggal 27 Mei 2011.

[12] Media Indonesia, 2010, “Dimensi Sosial-ekonomi Pendidikan, Senin  6 September,  diakses dari http://222.124.213.119/images/stories/kliping_pendidikan_2009/pendidikan/ali/sep/dimensi%20sosial-ekonomi%20pendidikan.doc  pada tanggal 27 Mei 2011.

[13] Ravik. ibid

[14] Soerdjono Soekanto, 1984, “Struktur dan Proses Sosial : Suatu Pengantar Sosiologi Pembangunan”, Jakarta : Rajawali, hal. 103.

[15] “Pendidikan dan Mobilitas”, diakses dari  http://www.uns.ac.id/data/sp9.pdf pada tanggal 27 Mei 2011.

DAFTAR PUSTAKA

 

Barnadib, Imam. 1995. Pendidikan Perbandingan : Buku Dua (Persekolahan dan Perkembangan Masyarakat). Yogyakarta : Andi Offset.

H. Guawan, Ary. 2000. Sosiologi Pendidikan Suatu Analisis tentang Berbagai Problem Pendidikan. Jakarta : Rineka Cipta.

Hanum, Farida. 2011. Sosiologi Pendidikan. Yogyakarta : Kanwa Publisher.

Hasbullah. 1999. Dasar – Dasar Ilmu Pendidikan. Jakarta : Raja Grafindo Persada.

Media Indonesia. 2010. Dimensi Sosial-ekonomi Pendidikan. diakses dari http://222.124.213.119/images/stories/kliping_pendidikan_2009/pendidikan/ali/sep/dimensi%20sosial-ekonomi%20pendidikan.doc  pada tanggal 27 Mei 2011.

Mudyahardjo, Redja. 1997. Dasar – dasar Kependidikan. Jakarta : Departemen Pendidikan dan Kebudayaan

Ravik. 2009. Gelar Akademik dan Konsekuensinya. diakses darihttp://uns.ac.id/2009/11/05/gelar-akademik-dan-konsekuensinya/+upaya+meningkatkan+status+sosial/ pada tanggal 27 Mei 2011.

Siswoyo, Dwi, dkk. 2007. Ilmu Pendidikan. Yogyakarta : UNY Press.

Soekanto, Soerdjono. . 1983. Teori Sosiologi tentang Struktur Masyarakat. Jakarta : Rajawali.

                                                . 1984. Struktur dan Proses Sosial : suatu pengantar Sosiologi Pembangunan . Jakarta : Rajawali.

                                                . 2006. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta : Raja Grafindo Persada.

 

PENDIDIKAN

KUNCI MENGUBAH STATUS SOSIAL

Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Sosio-Antropologi Pendidikan

Dosen Pengampu : Prof. Dr. Farida Hanum, M. Si

Disusun Oleh :

Endang Melani R.

09413241012

 

PRODI PENDIDIKAN SOSIOLOGI

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN EKONOMI

UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA

2011

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: