Geng Nero Juwana – Pati, Juni 2008


Nama          : Endang Melani R.

NIM           : 09413241012

Prodi           : Pend. Sosiologi

Geng Nero

Juwana – Pati, Juni 2008

A. Latar Belakang
Membentuk geng itu adalah suatu hal yang wajar, seperti yang dilakukan oleh pelajar di daerah Juwana-Pati. Sebuah kelompok remaja putri membentuk geng dengan menamakan diri “Geng Nero”. Nero merupakan akronim dari “neko-neko, dikeroyok” (macam-macam, kita keroyok). Geng ini terdiri dari sekelompok remaja perempuan yang terikat oleh loyalitas yang sama dalam menjaga keunggulan kelompoknya.
Remaja membentuk geng dianggap wajar dan boleh – boleh saja untuk memenuhi kebutuhan sosialnya. Yang menjadi masalah adalah ketika kehadiran dan keberadaan geng tersebut meresahkan warga di sekitarnya karena bertindak di luar batas – batas norma yang berlaku dalam masyarakat. Fenomena keberadaan geng pola terbentuknya dimulai dari sebuah ikatan kebersamaan dan emosional.
Juni 2008, warga Kabupaten Pati, Jawa Tengah, kembali digegerkan penyebaran video kekerasan melalui telepon genggam. Setelah ramainya akan kekerasan dari geng nero, Pati kini di ramaikan kembali dengan aksi serupa. Rekaman tersebut lebih kejam. Terlihat puluhan gadis remaja mengeroyok, menendang, dan memukul seorang remaja putri di sebuah jalanan sepi. Sementara yang lainnya hanya menonton pengeroyokan tersebut. Fenomena kekerasan di kalangan remaja yang dilakukan oleh geng Nero ini banyak menarik perhatian masyarakat.
Belajar dari kejadian tindak konflik dan kekerasan yang dilakukan Geng Nero, menjadi sesuatu yang perlu menjadi perhatian khusus bagi orang tua. Anak-anak adalah sebuah kertas putih bersih yang belum ditulisi apapun, ketika ia dilahirkan. Ia akan menjadi apa dan seperti apa, bukanlah sepenuhnya menjadi pilihan mereka, tetapi lebih dikarenakan apa yang mereka lihat, dengar, pelajari dari orang-orang dewasa di sekitarnya.

B. Rumusan Masalah
a. Bagaimana konteks dan sumber konflik kekerasan Geng Nero?
b. Apa yang menjadi faktor tindak kekerasan Geng Nero?
c. Bagaimana pemetaan konflik Geng Nero?
d. Bagaimana analisis konflik geng nero?
e. Teori apa yang dapat digunakan untuk menganalisis konflik Geng Nero?
f. Bagaimana solusi yang ditawarkan untuk memecahkan kasus Geng Nero agar tidak kembali terulang?

C. Pembahasan
a. Konteks dan sumber konflik kekerasan Geng Nero
Geng Nero, seperti yang diberitakan oleh Kedaulatan Rakyat pada 22 Juni 2008, keempat anggota geng Nero yakni Ratna, Yunika, Maya dan Tika semula merupakan sesama atlet basket Sekolah Menengah Pertama di kota Juwana. Kebersamaan ini berlanjut, meskipun mereka berada di bangku Sekolah Menengah Atas yang berbeda. Tali persahabatan ini lantas menginisiasi sebuah gagasan untuk membentuk geng yang tak tertandingi di kotanya. Maka lahirlah geng Nero sebagai simbol kedigdayaan untuk menggalang kekuatan dalam menghadapi geng-geng yang sudah ada yang akan membabat habis para remaja di bawahnya, terutama berkelamin sejenis, yang berani bertingkah di luar batas kesesuaian yang telah distandarkan oleh mereka sendiri. Mereka bisa menyeret, menghajar dan menampar korban (perempuan juga yang biasanya lebih muda) hanya lantaran membenci tingkah laku si korban.
Konflik – konflik antara geng nero dengan geng – geng lainnya muncul karena mereka tidak suka bila ada anak perempuan lain yang menyaingi dan melebihi apa yang dimiliki Geng Nero. Misalnya, soal pakaian, gaya rambut, atau penampilan lain. Selain itu, juga karena gagasan untuk membentuk geng yang tangguh dan unggul.
Konflik remaja seperti geng nero termasuk konflik laten yang kapan saja bisa muncul. Konflik laten adalah suatu keadaan yang didalamnya terdapat banyak persoalan, sifatnya tersembunyi, dan perlu diangkat ke permukaan agar bisa ditangani. Hal ini terbukti karena sebelum beredarnya video pengkeroyokan geng nero terhadap seorang remaja putri, keberadaan geng nero diam – diam saja, belum banyak orang mengetahui. Tetapi setelah beredarnya video tersebut, geng Nero menggegerkan kehidupan masyarakat dan pendidikan. dengan mencuatnya video kekerasan geng nero tersebut masalah geng nero segera ditangani. Yaitu sehari setelah beredarnya video tersebut kepolisian mencari dan menangkap pelaku geng nero.

b. Faktor yang menyebabkan tindak kekerasan Geng Nero
Prinsip senioritas.
Dalam kenyataan keseharian di sekolah, hubungan antara adik kelas dan kakak kelas dibatasi oleh sekat senioritas. Yunior harus sopan dan patuh dengan senior. Kalau ada yunior yang tingkahnya dianggap ngelunjak, urusannya bisa ribet. Hal ini tidak hanya saat MOS (masa orientasi siswa) saja, tetapi juga selama mereka sekolah.
Lemahnya kontrol orang tua terhadap anak
Kehidupan yang serba sulit dan desakan ekonomi yang menuntut untuk segera terpenuhi menyebabkan orang tua harus bekerja keras. Banyak orangtua yang disibukkan dengan urusannya masing – masing. Sehingga terkadang kesibukan – kesibukan orang tua itu sampai menyita perhatiannya terhadap anaknya. Orang tua kurang memperhatikan perkembangan anak – anaknya. Mereka juga kurang perduli terhadap pergaulan anak – anaknya.
Selain itu juga diketahui bahwa beberapa anggota geng nero itu sangat kurang mendapat perhatian dari orang tuanya. hal ini dikarenakan orang tua dari 2 anggota geng nero diketahui single parent.
Pengaruh tayangan televisi
Televisi sekarang ini telah mengalami perubahan fungsi. Dulu televise sebagai media informasi, pendidikan dan hiburan. Tetapi sekarang ini fungsi televisi tak lain hanya sebagai media hiburan semata, yang mana fungsi mendidiknya berangsur-angsur menghilang. Sekarang, tayangan televise dipenuhi dengan tayangan sinetron yang sarat dengan adegan tindak kekerasan. Tayangan-tayangan sinetron telah mengkontaminasi kehidupan banyak masyarakat, terutama pada anak-anak dan remaja. Sehingga, tidak menutup kemungkinan perilaku dan sikap anak akan mengikuti acara televisi yang ia tonton.
Dengan melihat tindak kekerasan yang dilakukan Geng Nero terhadap korbannya (menendang dan memukul menggunakan tangan dan kaki, menampar, menggelandang dan menjambak rambut), disimpulkan bahwa Geng Nero terinspirasi dan tidak mau kalah dengan apa yang terjadi di sinetron. Anak – anak geng Nero itu menduplikasi perilaku yang sering dilihatnya.
Solidaritas dan Loyalitas yang tinggi
Kebersamaan yang berlanjut dan berlangsung lama akan menumbuhkan rasa solid dan loyal yang tinggi. hal ini dibuktikan oleh para anggota geng Nero, yang mana mereka semula adalah sesama atlet basket Sekolah Menengah Pertama di kota Juwana. Kebersamaan mereka berlanjut, meskipun mereka berada di bangku Sekolah Menengah Atas yang berbeda. Tali persahabatan itulah sebagai dasar membentuk geng Nero.
Rasa solid mereka ditunjukkan dalam menghadapi korbannya. Yaitu sebernarnya yang berkonflik dengan korbannya itu hanya satu atau dua orang saja. Tetapi atas nama menjaga kebersamaan dan eksistensi kelompok geng nero maka anggota yang lainya ikut – ikutan berkonflik. Hal ini dibuktikan dalam video itu bahwa geng nero suka main keroyokan terhadap korbannya.

c. Pemetaan Konflik
Konflik yang terjadi bisa berbentuk konflik antar geng dan dengan individu. Yaitu antara geng nero dengan geng – geng lainnya ataupun antara geng nero dengan seorang individu. Geng Nero disebut-sebut suka menganiaya remaja putri, terutama yang masih SMP, tanpa alasan jelas. Konflik – konflik tersebut muncul karena mereka tidak suka bila ada anak perempuan lain yang menyaingi dan melebihi apa yang dimiliki Geng Nero. Misalnya, soal pakaian, gaya rambut, atau penampilan lain. Selain itu, juga karena gagasan untuk membentuk geng yang tangguh dan unggul. Konflik geng nero yang mencuat yaitu karena beredarnya video kekerasanyang dilakukan geng nero kepada seorang siswi, sedangkan yang lainnya pada menonton. Karena mencuatnya video tersebut, geng nero akhirnya di tangkap oleh kepolisian.

Pemetaan konflik geng nero

= hubungan konflik
= tidak ada hubungan
= hubungan kurang harmonis
= pihak yang menyelesaikan
= hubungan tak langsung

d. Analisis Konflik
– Segitiga Konflik Galtung
Geng Nero bisa dianalisis dengan segitiga konflik Galtung. Segitiga konflik galtung merupakan analisis hubungan sebab akibat atau interaksi yang memungkinkan terciptanya konflik sosial. Ada tiga dimensi dalam segitiga konflik Galtung, yaitu sikap, peprilaku dan kontradiksi.
– Sikap adalah persepsi anggota kelompok terhadap isu – isu tertentu yang berkaitan dengan kelompok lain.
– Perilaku dapat berupa kerjasama, persaingan atau paksaan, suatu gerak tangan dan tubuh yang menunjukkan persahabatann atau permusuhan.
– Kontradiksi adalah kemunculan situasi yang melibatkan problem sikap dan perilaku sebagai suatu proses.
Secara sederhana sikap melahirkan perilaku, dan pada akhirnya melahirkan kontradiksi atau situasi. Sebaliknya, situasi bisa melahirkan sikap dan perilaku.
3 dimensi segitiga konflik galtung dalam konflik geng nero, yaitu:
– Sikap. Sikap geng nero terhadap calon korbannya yaitu membenci tingkah laku si korban. Geng nero akan membenci dan menjadikan korban siapa saja yang berusaha menyaingi dan melebihi geng nero.
– Perilaku. Perilaku geng nero berupa menyeret, menghajar dan menampar korban, meludahi, menjambak, memukul, menganiaya, menendang, dan lain sebagainya.
– Situasi. Situasinya yaitu muncul tindak kekerasan konflik seperti yang mencuat dalam video rekaman yang beredar dulu.
Tindak kekerasan
(seperti yang mencuat lewat video yang beredar)

Sikap Perilaku
(membenci tingkah laku si korban) (menyeret, menghajar dan menampar
korban, meludahi, menjambak,
memukul, menganiaya, menendang, dll)

e. Teori
 Teori Ralf Dahrendrof
Analisis Konflik Dahrendrof, Kekuasaan terutama pada kemampuan untuk mengendalikan orang lain. Sedangkan kekuasaan adalah kemampuan memaksakan kemauan meskipun ditentang.
Aplikasi teori Dahrendrof terhadap konflik geng nero yaitu pada awal terbentuknya geng nero sebagai kedigdayaan untuk menggalang kekuatan dalam menghadapi geng-geng yang sudah ada yang akan membabat habis para remaja di bawahnya, terutama berkelamin sejenis, yang berani bertingkah di luar batas kesesuaian yang telah distandarkan oleh mereka sendiri. Kekuatan geng nero terbukti dengan sepak terjangnya dalam melawan geng-geng lain, atau yang heboh dalam rekaman video itu yaitu ketika berkonflik kepada salah seorang remaja, mereka mengkroyok remaja tersebut. Diakui atau tidak geng nero memiliki kekuasaan mengendalikan orang lain. Wujud kekuasaan lainnya, yaitu mereka mengendalikan siapa saja yang melebihi mereka yang berujung pada konflik kekerasan, karena mereka tidak suka bila ada anak perempuan lain yang menyaingi dan melebihi apa yang dimiliki Geng Nero.
 Teori Lewis Cooser
Analisis Konflik Cooser, konflik memiliki fungsi positif bagi kelompok yaitu mempererat integrasi sosial. Konsekuensi Positif konflik meliputi: 1) menetapkan karakter (anggota) kelompok; 2) menetapkan identitas kelompok; 3) mempertahankan stabilitas; dan 4) meningkatkan kohesi (kerekatan) masyarakat
– Menetapkan karakter anggota kelompok. Anggota geng nero memiliki karakter yang kuat, pemberani, berkuasa, dan tangguh. Hal ini dibuktikan dengan keberaniaannya beraksi kepada korbannya.
– Menetapkan identitas kelompok. Geng nero diakui sebagai geng yang tangguh diantara geng-geng remaja putri lainnya.
– Mempertahankan stabilitas. Stabilitas yang dimaksud yaitu kestabilan intern geng nero itu sendiri. Untuk mempertahankan stabilitas tersebut apapun dilakukan yaitu jika ada yang menyaingi atau melebihi apa yang dimiliki geng nero akan dibabat habis. Mereka tidak suka jika ada yang menyaingi dan melebihi mereka, karena jika ada yang menyaingi kedigdayaan geng nero bisa turun pamor.
– Meningkatkan kohesi masyarakat. Kohesi masyarakat yang dimaksud yaitu para anggota geng nero itu sendiri. Dengan adanya konflik dengan pihak lain kohesi (keeratan) anggota akan semakin meningkat, kerena memiliki tujuan yang sama.
Teori Coser lainnya yaitu kepentingan umum kelas mendorong anggotanya bersatu melakukan aksi bersama. Kepentingan geng nero untuk menjadi geng yang tangguh diantara geng-geng lainnya dan menunjukkan kedigdayaan kekuatannya dalam menghadapi geng-geng yang sudah ada mendorong para anggota geng nero bersatu melakukan aksi bersama. Misalnya yaitu secara spontan tanpa dikomando mereka akan menyeret, menghajar dan menampar korbannya.
 Teori Max Weber
Teori konflik Weber, konflik adalah manifestasi tindakan manusia yang ingin meraih posisi – posisi dalam stratifikasi sosial.
Geng Nero untuk bisa menonjolkan dirinya sebagai geng yang tangguh dan menunjukkan kedigdayaan kekuatannya melalui konflik – konflik dengan geng – geng lainnya. Karena dengan berkonflik dengan geng-geng lainnya dan menang akan terbukti ketangguhannya. Sebaliknya, jika tidak berkonflik tidak akan ada yang mengakui ketangguhan dan kekuatan geng nero. Dengan terbukti ketangguhannya maka geng nero akan menempati posisi atas dalam daftar geng yang memiliki kekuasaan tangguh.
 Simmel
Teori Simmel, individu dihubungkan dalam kesatuan akan kepentingan – kepentingan. Individu menggunakan pengaruh/hubungan antara individu untuk menarik keuntungan dari hubungan tersebut berdasarkan kepentingan.
Keempat anggota geng Nero yakni Ratna, Yunika, Maya dan Tika semula merupakan sesama atlet basket Sekolah Menengah Pertama di kota Juwana. Kebersamaan ini berlanjut, meskipun mereka berada di bangku Sekolah Menengah Atas yang berbeda. Tali persahabatan ini lantas menginisiasi sebuah gagasan untuk membentuk geng yang tak tertandingi di kotanya. Maka lahirlah geng Nero sebagai simbol kedigdayaan untuk menggalang kekuatan dalam menghadapi geng-geng yang sudah ada yang akan membabat habis para remaja di bawahnya, terutama berkelamin sejenis, yang berani bertingkah di luar batas kesesuaian yang telah distandarkan oleh mereka sendiri. Mereka bisa menyeret, menghajar dan menampar korban (perempuan juga yang biasanya lebih muda) hanya lantaran membenci tingkah laku si korban. Dari sejarah singkat terbentuknya geng nero tersebut, tersirat kepentingan – kepentingan yang menyatukan mereka dalam geng nero.
 Emile Durkheim
Kesadaran kolektif merupakan unsure mendasar dari terjaganya eksistensi kelompok. Mengikat individu – individu melalui berbagai symbol dan norma sosial.
Kebersamaan yang berlanjut dan berlangsung lama menumbuhkan rasa solid dan loyal yang tinggi, yang mana akan menumbuhkan kesadaran kolektif. Eksistensi geng nero terwujud dari kesadaran (kesadaran yang salah) untuk tetap mempertahankan dan menjadikan tangguh geng nero tanpa tandingan.

f. Solusi
Penangkapan anggota geng Nero oleh aparat kepolisian dan kemudian dijatuhi hukuman penjara bukanlah suatu solusi yang tepat. Karena jika mereka mendapatkan hukuman penjara maka mereka akan bercampur dengan para narapidana lainnya yang umumnya lebih dewasa dari mereka justru hanya akan berakibat lebih buruk. Anggota geng Nero yang masih anak – anak tidak harus merasakan kerasnya kehidupan di penjara. Apalagi kalau narapidana yang lebih dewasa itu melakukan “prinsip senioritas” atau peloncoan terhadap mereka itu akan berakibat buruk bagi jiwa mereka. Seharusnya anggota geng nero mendapatkan semacam rehabilitasi untuk pemulihan mental mereka. Menyadarkan mereka tentang apa yang telah diperbuatnya. Diberikan pendidikan dan bimbingan secara tepat agar kelak menjadi manusia dewasa yang memberikan arti penting bagi kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
Untuk mencegah terjadi kembalinya geng nero diperlukan kerja sama berbagai pihak, antara pemerintah, media massa, keluarga, dan sekolah. Berikut ada beberapa solusi yang ditawarkan agar konflik geng nero atau semacamnya tidak kembali terulang dalam dunia remaja, yaitu:
Pemerintah
– Pemerintah berperan menghapus, membatasi tayangan yang berbau kekerasan.
– Memberikan aturan yang tegas kepada Lembaga Penyiaran terhadap tayangan – tayangan yang di tayangkan.
– Menyediakan fasilitas untuk menyalurkan energy ekstra remaja ke hal yang positif. Misalnya yaitu menambah fasilitas olah raga yang ada.
Keluarga
– Orang tua lebih memperhatikan anak – anaknya. Misalnya yaitu mengecek pergaulan anaknya, sehingga tidak terjerumus ke hal – hal negative.
– Ciptakan suasana rumah yang harmonis, sehingga anak merasa betah untuk tinggal di rumah. Dengan demikian anak tidak sering keluar rumah hanya untuk senang-senang sesaat.
– Luangkan waktu untuk mendampingi anak-anak saat melihat tayangan yang disajikan televisi. Karena masih banyak tayangan televisi yang tidak pantas dan anak – anak belum cukup emosionalnya untuk memilahnya. Misalnya, adegan kekerasan, tawuran, perkosaan, dan lain – lain.
– Pengawasan yang ekstra terhadap anak – anak. Karena anak – anak yang baru menginjak usia remaja membutuhkan pengawasan yang ekstra. Pengawasan yang ekstra bukan berarti mengekang kebebasan anak. karena jika anak merasa terkekang ia akan memberontak dan biasanya akan frustasi dan lalri ke hal – hal negative.
Lembaga Pendidikan
– Sekolah berperan membentengi anak didik, misalnya dengan mengadakan ceramah – ceramah keagamaan untuk memperkuat akidah.
– Diberikan pendidikan budi pekerti atau pendidikan karekter. Pendidikan budi pekerti/pendidikan karekter yang diberikan lebih kepada pembaruan mental, bukan hanya luarnya saja. Misalnnya, yaitu hanya mengatur tentang cara berpakaian yang rapi, dan tidak mengundang nafsu lawan jenis. Dengan pendidikan karakter/budi pekerti yang substansinya lebih ke pembaruan mental bertujuan supaya mental peserta didik lebih tertata, sehingga moral mereka menjadi lebih baik lagi.
– Perbanyak kegiatan ekstrakurikuler untuk menyalurkan tenaga remaja kearah positif. Pada usia remaja, seseorang memiliki energy yang ekstra. Dengan kegiatan ekstrakurikuler diharapkan energy ekstra mereka tersalurkan secara positif, dan waktu longgar mereka untuk hal sia-sia berkurang.
– Tenaga pendidik diberikan pemahaman untuk tidak bertindak keras dan kasar, memberikan punishment terhadap kesalahan peserta didik. Guru tidak boleh melakukan tindak kekerasan kepada siswanya jika ada yang berbuat salah. Tetapi lebih memberikan pengarahan yang bersifat mendidik. Misalnya, memberikan teguran dan pengarahan terhadap siswa yang melakukan kesalahan agar tidak perbuatannya tidak kemabali terulang.

Referensi
Ritzer, George dan Douglas J. Goodman. 2010. Teori Sosiologi Modern. Jakarta : Kencana.
Susan, Novri. 2008. Pengantar Sosiologi Konflik dan Isu – Isu Konflik Kontemporer. Jakarta : Kencana.
Wardana, Amika. 2010. Materi Teori konflik 2: Non Marxis (Hand Out).
http://www.antara.co.id/arc/2008/6/17/anak-geng-nero-butuh-pemulihan-mental/ diakses tanggal 17 November 2011.
http://www.antaranews.com/view/?i=1213358343&c=NAS&s= diakses tanggal 17 November 2011.
http://www.lintasberita.com/Nasional/Politik/Di_Balik_Aksi_Kekerasan_Geng_Nero diakses tanggal 17 November 2011.

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: